Tampilkan postingan dengan label The Bystander. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Bystander. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2012

The Bystander Intervention Model

The Bystander Intervention Model predicts that he is more likely to help others under certain conditions. As the diagram indicates, bystander first must notice the incident taking place. Obviously, if he doesn’t take note of the situation there is no reason to help. 
Bystander also need to evaluate the situation and determine whether it is an emergency—or at least one in which someone needs assistance. Again, if he does not interpret a situation as one in which someone needs assistance, then there is no need to provide help. 
Another decision Bystander make is whether he should assume responsibility for giving help. 
One repeated finding in research studies on helping is that a Bystander is less likely to help if there are other bystanders present. 
When other bystanders are present responsibility for helping is diffused. 
If a lone bystander is present he or she is more likely to assume responsibility.    
Factors that Influence Helping
Many factors influence his willingness to help, including the ambiguity of the situation, perceived cost, diffusion of responsi­bility, similarity, mood and gender, attributions of the causes of need, and social norms.
  • Situational ambiguity. In ambiguous situations, (i.e., it is unclear that there is an emergency) he is much less likely to offer assistance than in situations involv­ing a clear-cut emergency.
    He is also less likely to help in unfamiliar environments than in familiar ones (e.g., when he is in strange cities rather than in his hometowns).
  • Perceived cost. The likelihood of helping increases as the perceived cost to himself declines. He is more likely to lend his class notes to someone whom he believe will return them than to a person who doesn't appear trustworthy.
  • Diffusion of responsibility. The presence of others may diffuse the sense of indi­vidual responsibility. It follows that if you suddenly felt faint and were about to pass out on the street, you would be more likely to receive help if there are only a few passers-by present than if the street is crowded with pedestrians. With fewer people present, it becomes more difficult to point to the "other guy" as the one responsible for taking action. If everyone believes the other guy will act, then no one acts.
  • Similarity.
    He is more willing to help others whom he  perceive to be similar to himself - people who share a common background and beliefs. He is even more likely to help others who dress like he does than those in different attire. He also tend to be more willing to help his kin than to help non—kin.
  • Mood. He is generally more willing to help others when he is in a good mood.
  • Gender.
    Despite changes in traditional gender roles, women in need are more likely than men in need to receive assistance from him.
    CMIIW ( ^∇^)
  • Attributions of the cause of need.
    He is much more likely to help others he judge to be innocent victims than those he believes have brought their prob­lems on themselves. Thus, he may fails to lend assistance to homeless people and drug addicts whom he feels "deserve what they get."
  • Social norms.
    He will not touch you in public.
Sebenarnya, dia sangat malas menolong orang lain, karena menurutnya itu tidak berguna, tapi karena Allah, dia melakukannya juga. Hutangnya sangat banyak kepada Allah yang memeliharanya, jadi bagaimana dia bisa diam saja sementara ada makhluk Allah yang membutuhkannya, membutuhkan pertolongannya.
Memang, dia akui, setelah menolong (apapun jenis pertolongan/intervensinya), dia lebih baik bersikap "tidak terjadi apa-apa", karena....jagalah privacynya...dia tidak ingin semua orang minta bantuan kepadanya, dia juga ingin main, main mayat-mayatan di tempat tidur (gak gerak sama sekali), atau sekedar ingin menyendiri (dia merasa lebih nyaman saat dia berdialog dengan Tuhannya, Allah).
Hormatilah privacynya, karena sama sepertimu waktunya dalam sehari hanya 24 jam.
Dia menolongmu, cukup sampai disitu, kamu tidak perlu memberitahukannya kepada semua orang, atau memintanya untuk menunjukkan dirinya di depan orang lain, karena orang lain akan merasa iri "kenapa dia menolongmu, kenapa dia seperti itu kepadamu, sementara kepada kami, mendengarkan cerita kami pun dia ogah (tidak mau)?".
Pertanyaan yang akan sulit (karena enggan) untuk dijawabnya.

"Dia menolong siapa pun yang dia kehendaki dan
membiarkan siapa pun yang tidak dia kehendaki untuk ditolong".

Selasa, 11 September 2012

Cintalah Jangan Suudzon

Eh...eh, anu, alasan khususnya bukan karena kamu tanpa sengaja menemukan "A Bystander" yg sedang "bersembunyi" & mengajarkannya cinta kan? :D 
Hahaha, hidup ini lucu kan...terlalu banyak "kebetulan".  
"Bystander" itu sedang bersembunyi jauh dari peradaban, sementara dia meminta kepada Allah sesuatu yang bahkan tidak pernah dilihatnya. "Bystander" itu merasa bahwa "kalau aku disini", tidak akan ada yang ada yang menemukanku. Setidaknya dia memang bodoh, Allah bisa apa saja, kekuasaan-Nya tiada batas.
Tapi ada manusia yang tiba-tiba menyadari sesuatu yang hanya dia dan Allah yang tahu, lalu mengajarinya (sedikit "dipaksa") tentang cinta, tentang mencintai, dan bahwa mencintai manusia itu adalah salah satu cabang dari cinta Allah. 
Sejak itu "Bystander" satu itu, belajar lagi dari awal semua hal yang dulu sudah diketahuinya.
Dan dia sekarang lebih mengerti bahwa hidayah itu milik Allah, dia tidak bisa menyelamatkan siapapun tanpa Allah menghendaki demikian juga. 
Jadi, kalau dulu dia mencoba menyelamatkan semua orang (L/P) sampe berdarah-darah...sekarang dia lebih "melihat", "mendengar" dan berpikir. Termasuk ketika melihat "setan vs setan", dia akan diam saja, tidak ngapa-ngapain, hanya melihat.

Aku tidak menghakimi orang, itu hak Allah.  
Tapi jika ada yang bilang kamu tidak bisa melihat tanda-tanda ahli neraka dan ahli syurga, itu...tidak sepenuhnya benar. Itu hanya agar kita tidak ber-su'udzon kepada orang lain, sehina apapun dia di mata kita. Allah mengajarkan itu kepadaku dgn contoh nyata. 

Contoh:
Suatu pagi, ketika habis shalat subuh di Masjid terdekat di kota anda (deket kost maksudnya), jalan-jalan nyari makanan (biasanya dia ada kegiatan lain sehabis shalat subuh itu) agak jauh, tempat langganannya dulu, dah jalan lumayan jauh, sampe di TKP ternyata...yup...tutup...gak buka "khusus" hari itu.
Yah, habis itu berjalan pulang...tak...tik...tuk...(jalan kaki)...ternyata ada yang mengikutinya...botak gede serem matanya merah (lebih gede dari dia)...
Mulai ngerasa gak nyaman, dia jalan agak stand by (tadinya santai banget) kalo-kalo dia mau langsung nyerang dari belakang, pikirnya...

Hampir sampai di kost, ternyata ada yang dagang makanan buat sarapan pagi (ya iyalah, jam 5 pagi masak buat makan siang T_T, kadang dongo' juga nih)...nah, untuk melihat dan memastikan bahwa orang itu (yang botak gede serem + matanya merah tadi), dia sengaja ngelewati Ibu yang dagang itu untuk sekedar melihat gembok pagar kost...ternyata orang itu juga melewati Ibu Dagang itu.
(Jaraknya Kost - Ibu Dagang +/- 15 meter)
Habis megang gembok, langsung balik badan...dan berjalan ke arah Ibu dagang buat beli makan...ternyata...guess what...
YUP...abang botak gede serem + matanya merah itu ngikutin dia.

Sampe di tempat Ibu itu, ternyata beliau belum siap dagangannya, masih mau bawa-bawa segalanya dari rumahnya di gang di depan lapaknya tuh tante.
Nah, pajang-pajangan dunk dia sama si abang botak gede serem + matanya merah tadi.
Dia mikir, "pasti mau malak nih bocah." (gak mungkin assasin/pembunuh bayaran kan, hahaha, ngapain coba?)
Pelototan and saling liat, dia liatnya biasa aja, orang itu melotot dengan mata merahnya sambil megang-megang sesuatu di tas kecilnya.
Mikir lagi, "pisau tuh..." (Ya iyalah, masa' pistol...-_-...aih).
Ada saat ketika dia ingin langsung nyamperin tuh orang dan "yah biasalah: Bag Big Bug Dug" aja, tapi ada suara yang menghentikannya 
"Sabar...kan dia gak ngapa-ngapain, kalo dia nyentuh kamu duluan kamu bebas ngapain aja".
So, dia tetap stay still in alert dan berusaha santai.
Nah...lama-lama jongkok-berdiri-jongkok kan gerah n capek (gak ada tempat duduk yang layak, kecuali mau lesehan di aspal :D)...

Akhirnya dia memutuskan untuk menyapa dan membantu Ibu itu menyiapkan,
K: "Bu, ada yang bisa saya bantu?"
I: " Oh kebeneran dik, anak-anak Ibu pada males bantuin."
(Belakangan gw tau kalo Ibu ini adalah isteri dari Imam di Masjid tadi, Masyaa Allah)
Dah, bolak-balik masuk gang kecil mbantuin Ibu itu ngangkatin semua dagangan, kursi plastik, dsb.
Akhirnya kelar juga #Alhamdulillah, karena Allah, mungkin jadi gak kerasa capek sama sekali.
K: "Bu saya pesen nasi lontong sayurnya ya"
I: "Iya dik, pake sambel gak?"
K: "iya bu"
Ibu itu ngeliatin ke arah abang botak gede serem yang matanya merah itu, lalu,
I: "temennya juga satu ya dik"
K: (kaget n menolak dibilang temen) "ah, bukan bu, saya gak tau siapa itu."
I: "oh gitu"
Abang itu bereaksi dan menjawab: "Iya bu, saya juga satu"
K: (kaget, mikir "berarti dia denger percakapan gw sama Ibu ini dari tadi")
Yah, santai aja...makan (tetap alert), dah kelar satu porsi, masih laper, nambah nasi kuning.
Sementara abang itu dah kelar, n mulai bayar.
Dia (K) liatin terus (agak jauh duduknya), abang itu nunjuk-nunjuk dia sambil ngomong sama Ibu itu.
K: (mikir, "ah, gak mungkin dia mau bayarin gw, sementara tadi hampir aja "yah taulah" kalau aku tidak dicegah)
Selesai bayar, abang itu pergi sambil senyum ke arahnya.
Saking kaget liat senyum itu, dia diem senyum pun kagak, bukan karena kesel atau marah atau tidak peduli, tapi kaget karena mungkin firasatnya benar "bahwa dia dibayarin". 
Akhirnya selesai makan...
Mau bayar...
I: "Tadi udah dibayarin temennya dik"
K: (sok gak tau, masih) "Temen...temen yang mana Bu?"
I: "Yang tadi" (maksudnya abang yang tadi)
K: "Lho, saya gak kenal sama sekali lho sama orang tadi, serius bu? Emang Ibu kenal sama orang itu? Orang sini ya Bu?"
I: "Oh...iya? kirain kenal...Ibu juga gak tau siapa itu, baru kali ini Ibu liatnya..."
K: "Oh,gitu ya Bu, yaudah, makasih ya Bu"
(Senyum)
Alhamdulillah dibayarin orang, rezeki dari Allah.
Mikir...dan mikir..."Siapa orang tadi ya Allah?"
Yang Ditanya senyum aja di atas sana (itu yang dia rasakan, bahwa Tuhannya itu sedang tersenyum, Subhan Allah).
Kesimpulan yang didapatnya:
Itu siapa "Wa Allahu 'alam bishawab", mungkin Malaikat yang ditugaskan untuk memberinya rezeki dari Allah, mungkin juga setan yang ditugaskan oleh Allah untuk menguji tingkat kepatuhan dan kesabarannya (ingat waktu dia hendak "menerkam" abang itu, ada suara yang menyuruhnya untuk tidak melakukannya).
Dan ketika dia bisa bersabar dan tidak menyerang orang yang memprovokasinya itu, Allah senang dan memberinya rezeki.
Dan banyak pelajaran pagi itu:
  1. Jangan terburu buru baca Al-Qur'an, pahami pelan-pelan jangan hanya mengejar "tamat" terus ulang lagi tanpa berusaha memahami, mengaplikasikan, dan mengagumi setiap ayat-ayat Allah itu adalah benar;
  2. Di kehidupan sehari-hari ada pelajaran juga, janganlah kamu hanya membicarakan ayat-ayat Allah dan tuntunan dari Rasul-Rasul-Nya serta para nabi-nabi-Nya;
  3. Jangan gampang terpancing, tahanlah dirimu ketika kamu hendak menyerang orang lain, walaupun mereka memprovokasimu;
  4. Selalu percaya, bahwa Allah melindungimu;
  5. Berbuat baiklah kepada orang lain yang membutuhkanmu;
  6. Makanlah dengan membaca "Bismillah" minimal; dan
  7. Cintailah manusia karena Allah dan jangan berprasangka buruk kepada manusia, walaupun menurut logikamu manusia itu "pasti" berniat buruk kepadamu.
    Karena Allah melindungimu,
    dan Dialah sebaik-baiknya Pelindung
    .
Subhan Allah Wa Alhamdulillah
Wa Laa Ilaha Illa Allah Wa Allahu Akbar.

Sungguh, Allah itu sering membuatku menangis, karena-Nya.
Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah.
Aku berlindung kepada Allah.

Sabtu, 11 Agustus 2012

The Bystander: Tugas Sebagai Hamba Allah

Bismillah ir Rahmaan ir-Rahiim,
Aku tidak bingung, tapi aku merasa kasihan, karena aku melihat sesuatu yang salah...tapi aku sudah memperingatkan dan tidak bisa bicara tentang yang sesungguhnya karena itu rahasia, dan akan malah dikira dan/atau menjadi fitnah.
Jadi, aku diam...and...like usual....walks away in silence.
Karena tidak ada peraturan selain aturan Allah, yang mengikatku untuk "stay", aku bebas kemana saja, aku bebas melihat apa yang ingin kulihat, tanpa ikut terjun ke dalam "jebakan betmen" wkwkwkw...
(gitu aku menganalogikan jebakan Iblis n setan…anu...kamu...bukanlah "jebakan betmen" karena kamu sedang berada di dalamnya, aku hanya mencoba menarik tanganmu, aku bisa terjebak disana juga kalau aku menurutimu, Naudzubillah)
Pola kehancuran seperti ini sudah sering kulihat, n gak lama lagi manusia itu bakal "lost hope", blaming me, blaming my God, Astaghfirullah al-Adzim.
Padahal kami sudah memperingatkan, bahkan aku "interfere" langsung...menyempatkan waktuku meninggalkan kemalasanku untuk melakukan itu, kalo dia sadar kenapa tiba-tiba aku muncul (pertanyaannya sendiri).
"Berjihadlah kalian menghadapi kaum musyrikin (kafirin) dengan harta, jiwa dan lisan kalian" 
(HSR Abu Daud dan lainnya)
Zabur 106:
39Thus were they defiled with their works,
And prostituted themselves in their deeds.
42Their enemies also oppressed them.
They were brought into subjection under their hand.
43Many times he delivered them,
But they were rebellious in their counsel,
And were brought low in their iniquity.
44Nevertheless he regarded their distress,
When he heard their cry.
45He remembered for them his covenant,
And relented according to the multitude of his loving kindnesses.

 * 2 Korintus 11:14
Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.

* Efesus 6:11
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

Semua itu tampak jelas maksud dan maknanya.
Hah, kalian mempertanyakan kenapa aku mengambil ayat Allah dari Zabur, Taurat, dan Injil juga selain Al-Qur'an?
“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dan Rabbnya. 
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. 
(Al-Baqarah: 136).
Ya, aku mempelajari semuanya, Alhamdulillah, aku mempelajari semua perintah Allah dalam semua kitab-kitab Allah yang aku ketahui, mempelajari segala tipu daya Iblis dan setan, serta seluruh keturunan dan pengikutnya, ketika aku menyadari semua itu...
Aku kaget dan merasa putus asa, sebelum Allah menegurku:
“Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar:53)
Dengan mengetahui, berarti ada beban dan tanggung jawab, serta sebagai karunia dan rahmat Allah untuk menyelamatkan diriku sendiri, minimal.
Melihat, mengamati, memahami, bagaimana manusia bisa masuk surga atau neraka, yang merupakan kehendak Allah sekaligus pilihan mereka sendiri...tugasku hanyalah memperingatkan.
Dulu aku suka sedih, tapi sekarang Alhamdulillah nggak lagi, karena Allah meneguhkanku, menguatkan hatiku, memahamkanku akan "system".
"....Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih..."
(QS. Fussilat:30)

"Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a:
"Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku.
Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.
Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku."
kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan."
Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)."
(HR. Ahmad no.3712 dari 'Abdullah bin Mas'ud ra, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy)

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain."
(HR. Al-Bukhari 7/158 dari Anas ra)
 Aku terbiasa menangis (setelah aku mengetahui "system"), karena aku melihat kebodohanku dan kebodohan manusia pada umumnya, Astaghfirullah al-Adzim, sampai aku memutuskan untuk tidak akan menolong manusia lagi karena akan menyakiti diriku sendiri dalam prosesnya dan ada kemungkinan aku terseret ke dalam kubangan mereka...Naudzubillah.
Sampai Allah mengingatkanku, (yang intinya)
"Kamu dahulu adalah termasuk orang zalim yang suka melampaui batas dan berbuat kerusakan, sebelum Kami menyelamatkanmu, apakah kamu akan berdiam diri?
Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kejahatan-kejahatanmu dulu, jika Allah menghendaki.
Sudah sepantasnya kamu bersyukur kepada Tuhanmu, Maha Suci Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Dialah Allah."
(Rangkuman dari berbagai perintah Allah yang kulihat, kudengar, dan kupahami...sebenernya banyak lagi, tapi jika seluruh air di lautan menjadi tinta pun, tidak akan cukup untuk menggambarkan kebesaran Allah)
  ∑(O_O;) <---- shocked, nearly crushed his heart, he thought: 
"Sesungguhnya kematian itu lebih baik daripada kemurkaan Allah, gemetaran seluruh sel ditubuhku, semua akal dan logikaku merangkum semua kejadian begitu cepat, setiap kepingan jiwaku berhamburan ketakutan mau lari entah kemana, karena Dialah tempat kembaliku...Laa ilaha illa Allah."
Jadi, sejak itu aku bergerak...hehehe...gila apa, dah diperingatkan masih bersikeras, Naudzubillah, aku ingin kembali kepada Allah dengan keadaan yang baik yang Rabb-ku itu tersenyum kepadaku dan aku pun tersenyum kepada-Nya.

Tapi, jalanku tidak mudah (selalu dimudahkan Allah tapi...hehehe...Alhamdulillah), karena tentulah Iblis dan seluruh anak buahnya pasti akan menghalang-halangiku.
Bahkan terhadap nasib seorang manusia yang ingin kulindungi,
“Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu; di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan; orang yang penipu dipercaya, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat, serta ruwaibidhoh ikut berbicara”. 
Ada yang bertanya, “Apa itu ruwaibidhoh (orang lemah)?” 
Beliau bersabda, “Dia adalah seorang hina (dungu) berkomentar tentang urusan umum”. 
[HR. Ibnu Majah dalam Kitab Al-Fitan (4036). Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no.1887)]

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. 
Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam; 
dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”. 
(QS. Ali Imraan: 196-197).
 Ya, itu tadi...itu pilihan manusia, aku tidak bisa memaksa mereka.  (─‿‿─)
karena hidayah itu milik Allah, Dia memberikannya kepada siapapun yang Dia kehendaki dan menahannya dari siapapun yang Dia kehendaki pula.
Yang penting aku sudah berusaha, (Yah, Dia seneng kalo aku bergerak dan mengajariku tentang sebab-akibat, Subhan Allah).
Aku minta maaf, aku tidak bisa menangis ataupun menunjukkan kesedihanku, karena hanya Allah tempatku mengadu.
Lagian apapun pilihan manusia, aku seneng-seneng aja, mereka mau selamat dan mendengarkan apa yang kusampaikan, Alhamdulillah, mereka mau kafir (meragukan dan/atau tidak percaya) pun terserah juga, Naudzubillah, berarti aku ada tontonan, melihat kehancuran itu salah satu pelajaran juga,
"Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa. Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan".
(QS. An-Naml:69-70)

"Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu."
(QS. As-Saffat:73)

"Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."
(QS. Az-Zukhruf:25)
N then, I am watching (setelah menyampaikan apa yang harus aku sampaikan).
Aku sering menyampaikan peringatan itu dengan senyum  (yang mana malah sering dituduh main-main) hehehe, Astaghfirullah al-Adzim, padahal itu adalah wajah yang sangat friendly bagi manusia (smile), mereka akan ketakutan kalau melihat ekspresiku dikala aku berhadapan dengan Iblis dan/atau anak buah-anak buah iblis yang terkutuk, Naudzubillah.
 Yeah, whatever it is, I am merely an Allah's servants, whether you believe me or not is completely up to you.

Jumat, 10 Agustus 2012

The Bystander: Haruskah Aku Menikah

"Kapan kamu menikah Kris?"
Ya, memang itu pertanyaan semua orang...yang semakin sering akhir-akhir ini.
Baik dari yang mengenalku, maupun yang tidak mengenalku,
Baik dari yang kukenal, maupun yang tidak kukenal,
Baik dari yang baru bertemu, maupun yang sudah lama tidak bertemu.
Pertanyaan yang membuatku takut, sebegitu jauhkah aku dari rahmat Allah jika aku tidak menikah dengan berbagai alasan yang mungkin benar mungkin juga hanya alasan yang kubuat-buat.
dan pertanyaanku "haruskah?"
Karena yang kuinginkan, hanya bersama Allah, setiap hari, setiap waktu.
Gak tau kenapa, aku merasa lebih nyaman aja, aku gak merasa perlu melakukan hal yang umum dilakukan manusia sekarang, seperti nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, semuanya mereka lakukan serba bareng.
Ajakannya biasanya,
" Kris, kamu ada acara sore ini, dah nonton XOXOXO belum, nonton bareng yuk."
atau
"Kris, kamu nanti nanti makan dimana, makan bareng yuk..."
atau
" mmm, Krisna, mmm...temenin aku ke XOXOXO mau gak?"
(gw lebih seneng nama gw, biasanya sih mereka pake Mas atau Kak)

θ\(;¬_¬)
ntah apa tujuannya (walaupun akhirnya biasanya mau, karena ingin tau)...kalo aku sih, aku gak bakal mau (pacaran apalagi nikah) sama cewek model kayak gini nih, karena:

-   Lah, iya kalo dia ngomong gini ke aku doank, kalo ke semua cowok? selain aku? bahkan ke abang gorengan depan rumah?? atau ke orang lewat gak sengaja???
Kacau gan, Naudzubillah.

-   Biasanya gak jelas nih, suka tapi ragu, capeek... ( -。-) * fiuhh...
mereka (bukan cuma satu <--- dah sering kejadian) biasanya suka, n bukannya ngomong jujur, eh... malah main hide n seek (itu lho, kejarlah daku kau kutangkap),
dan karena pada dasarnya aku adalah pemalas (motto: Keadilan Sang Pemalas) otomatis gak tertarik untuk melakukan pengejaran dengan putaran setan kayak gitu, n menghilang gitu aja.

Nah, sampe sini nih...mulailah segala macem rumor gak jelas yang menyesatkan bersifat fitnah dan jadi sumber utama ghibah:
1. Krisna itu suka mainin orang.
2. Krisna itu habis manis sepatu dibuang, *hah, ngapain gw ngunyah sepatu ((((;゜Д゜))) OI??!
Eh, anu...maksudnya habis manis sepah dibuang.
3. Krisna itu orangnya gak pernah serius.

So, bagaimana itu bisa terjadi Saudara-Saudari Sebangsa dan Setanah Air???
Sometimes it hurts
Dan apa pembelaan diriku: Diam...yup diam.
* Nah terus ngapain lu nulis ini ((;-_-)ノ kalo cuma mau diem aja
K: ya, cuma iseng aja...tapi nggak kok, insya Allah aku tulis disini "penjelasan" terhadap permasalahan tersebut di atas....hehehe.

So...so...
1. Krisna suka mainin orang.
Bentar...kalo gw jawab "gak juga" berarti iya...
kalo gw jawab "nggak" berarti gw bohong (Naudzubillah)
kalo gw jawab "iya" berarti semuanya gw mainin?
Hehehe...tuduhan yang paling sulit dijawab...tapi insya Allah gw jawab:

Gini...gw kadang bereaksi terhadap apapun, Alhamdulillah diberi Allah reflek dan awareness yang tinggi, jadi...(horror sound effect)...gw hanya bereaksi dalam hal ini hati orang dan perasaan orang ya :)
Oh, intinya begitu ada keragu-raguan terhadap gw, saat itulah gw biasanya mulai "bereaksi".
Simple kan?
* Lho, itu kan hak kami untuk meragukan kesungguhanmu
? (suara orang-orang yang "merasa" dipermainkan)
K: anu, budhe-budhe, sabar...santai...gini...bisa saja kalian melakukan itu (ragu) kepada laki-laki lain,
Tapi aku...pernahkah kalian melihat aku bertingkah seperti "laki-laki murahan" (kanan kiri OK)?
Aku tidak pernah bertingkah seperti itu karena "ada Yang Selalu Melihatku", apa kata-Nya nanti kalau aku bertingkah seperti itu?
Malu aku kepada Allah yang selalu melihatku, bahkan ketika aku sendirian di kamar hotel nari-nari ala shinchan...naked! (Astaghfirullah al-Adzim)

Jadi, itu salah mereka sendiri yang meragukan, ya emang pada dasarnya aku juga gak pernah ingin terikat memang (cuma nanggepin, iseng-iseng berhadiah, siapa tau dapet perhiasan dunia yang terbaik insya Allah), tapi...(horror sound effect lagi)...justru saat mereka percaya...dan berserah diri sepenuhnya, maka aku 'automaticly' bonded.
(Wa Allahu 'alam bishawab)
Mungkin, karena aku tidak mau mengkhianati amanah, mungkin karena aku takut membuatnya menangis, mungkin karena aku...hanya Allah yang tau kenapa.

2. Krisna, habis manis sepah dibuang.

Ini, juga sama..."gak juga"...
* (一。一;;)aih (mulai geram), kalo cuma gitu jawabannya, tukang bakso pake formalin juga bisa jawab gitu...aih...auh...

OK, ok...
Gini, kita semua mencari yang terbaik kan?
Begitu juga aku, apakah aku tidak mempunyai hak untuk itu? Salah gw, salah temen-temen gw?? Gak waras lo!
* Bang, bang, inget...inget..sadar.

Hehehe, (akhirnya sadar).
Dalam mencari yang terbaik, aku hanya melihat hati.
Ya...hati.
Jadi, aku hanya akan menguji keimanannya (sumber utama keimanan itu adalah hati), yang terdiri dari:
Kejujuran, Kesetiaan, Ketidak-matre-an, Kesederhanaan, Ketulusan.
- Kejujuran
Saya akan bertanya tentang semua hal, biasanya yang tidak biasa...bohong = out.
(gpp sebenernya jawab dengan jujur, apa aja, bagiku yang penting jujur, karena itu adalah modal utama keimanan)

- Kesetiaan
Saya akan menghilang sebentar, bisa mandiri gak...kalo ternyata malah...(yah taulah)...out.

- Ketidak-matre-an.
Allah saksiku, sesungguhnya uang adalah senjata Iblis yang utama untuk menyesatkan manusia.
Lalu gimana cara mengujinya:
K: "ah, kalau aku kasih tau semua, gak seru dunk" ~(>_<。)\ * sulking
* ok, satu aja.

Ok. Gini, aku akan membeli satu hal yang paling tidak berguna (mainan biasanya) dan melihat bagaimana reaksinya.
+ ntah dia ikut senang (seneng karena aku seneng)
atau
- marah (lebih baik di tabung atau mbeliin dia hadiah) /(;-_-) <--- mulai berpikir untuk "kabur"

- Kesederhanaan
Kukira semua orang tau ini, gak usah dijelasin ya.
Aku gak suka keramaian,
gak suka ketinggian (baik secara harfiah maupun status sosial,
kalo terlalu outstanding malah jadi target.
Demen ke mall ...out.

- Ketulusan
Apa yang dia sukai dari aku?
Apakah segala yang bersifat duniawi yang melekat pada diriku (dari Allah)?
ataukah aku.
Ya, aku.

Jadi, satu tes gagal saja, aku biasanya akan "kabur", terlalu kasar ya...emmm, perlahan aku akan pergi sampai dia tidak menyadari bahwa aku sudah tidak ada.
Karena, jika aku menikah, dan sepertinya itu harus...cepat atau lambat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah melarang Utsman bin Mazh'un untuk membujang selamanya, karena semata-mata hendak melakukan ibadah kepada Allah.
Andaikan beliau mengizinkannya, tentulah kami sudah mengebiri diri kami sendiri.
(HR. Muslim, No. 2488, HR. Bukhari No.4685, HR. Ahmad No.1432, HR. Tirmidzi No.1003, HR. Nasai No.3160, HR. Darimi No.2073)

"Tidak (ada) hidup membujang dalam Islam."
(HR. Abu Daud No.1469)
Aku maunya sampe kapanpun pernikahan itu menyatukan kami di bawah naungan Allah.
Karena itu, harus sempurna menurutku.
Yah, tapi aku tidak boleh berkeras hati, semua akan terjadi sesuai kehendak Allah, dan sesuai pilihan-Nya.

3. Krisna itu orangnya gak pernah serius.
What do you see?

Why so serious?
Hehehe, gak sepenuhnya benar, kadang ketika aku (Astaghfirullah al-Adzim) lupa sama Tuhanku, aku serius.
Tapi ketika, aku tersadar bahwa Tuhanku ada dan melihatku, aku tersenyum kepada-Nya dan senang dengan keberadaan-Nya...bahkan disaat tersulit atau di saat-saat yang membutuhkan tampang seriusku, misalnya: meeting (rapat), temen atau kerabat atau orang lain lagi cerita sedih, atau lagi ada yang marah.

Yah, Alhamdulillah, Dia menganugerahkan ketenangan seperti itu kepadaku, sehingga aku tidak perlu "serius".
K: Pernah lihat orang ke masjid dengan muka mengkerut? Pernah lihat orang pulang kantor dengan tampang lemes gak bersemangat? Pernah lihat orang kerja sambil masang tampang tukang ban lagi mbongkar ban mobil truk gede?
Sering kan, hehehe...Naudzubillah.

Sekian penjelasan saya, terima kasih karena sudah mempertanyakan, menyimak, dan mencoba memahami.
Saya tau saya bukanlah Pangeran Minyak dari Dubai.
Saya tau saya bukanlah Pangeran Kerajaan Brunei.
Tapi, saya kan berhak memilih yang terbaik bagi saya.

Makanya, saya sarankan, in my humble opinion, lebih baik kamu memilih orang lain untukmu, karena mereka mungkin hanya akan melihat kecantikanmu, kekayaanmu, dan/atau kepintaranmu, kehormatanmu, dengan mengesampingkan keselamatanmu dan keselamatan diri mereka sendiri.

Saya?
Saya lebih menyukai bersama Allah, karena yang saya butuhkan hanya Allah.
Kalau Dia berkehendak memberi saya pendamping yang sempurna dari-Nya, khusus untuk saya, insya Allah saya akan mematuhi kehendak-Nya itu.
* patuh pa seneng? hehehe

Ya senenglah, patuh juga seneng juga, dan bersyukur banget, insya Allah.

Ok, sampe sini dulu ya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Amin.

PS (for someone, yang mengawasiku dan memata-matai hampir semua hal tentang aku):
anu...tante, kalo lu baca ini...mendingan hentikan semua aktivitas "gerilya"mu.
I knew n fully aware of it, I found it a little bit annoying.
Percuma kiranya kalau kamu tidak memiliki keberanian untuk bicara, mengutarakan isi hatimu, dan berlari kesana kemari tak tentu arah untuk menghilangkan perasaan hatimu yang sesungguhnya.
Hentikanlah, karena itu akan menghancurkan dirimu sendiri, membinasakan dirimu sendiri.(Naudzubillah).
Bertaubatlah kepada Allah.
Demi Allah, aku tidak mau melihatmu menganiaya dirimu sendiri.

Oh, iya, mengenai pertanyaanmu: "Sudah berapa orang yang kamu jerumuskan?"
K: tidak ada satupun, aku tidak pernah menjerumuskan mereka, mereka melakukan apa yang sedang kamu lakukan sekarang, dan aku membiarkannya saja, ya..aku membiarkan mereka masuk ke lubang biawak/buaya, dan yang kudengar hanya rintihan serta penyesalan (gak bereaksi - The Bystander).

* Anu, 1 lagi:
Aku tau kamu ngerasa: "kalau aku ngomong, kamu akan ketawa ngakak dan ngeledek aku, aku akan kamu perlakukan sebagai wanita murahan, dsb...dsb.".

K: (一。一;;)do as you wish then

I will be right here waiting in silence, sampai ketetapan Allah yang lain insya Allah.