 |
| "The World is not enough, and it would never gonna be enough, so I want Allah"
|
Seorang wanita bertanya kepadaku, "Apa yang kamu inginkan...?"
Aku bingung kalau ditanya seperti
itu.
I was only responding to your heart that was calling for me actually.
Yeah, that's the truth...
Lagian dari awal aku sudah bilang,
kalau aku tidak tertarik kepada seorang wanita biasa, dalam artian lelaki dan
wanita seperti biasa, aku harus menghadapi sesuatu yang jauh lebh besar di masa
depan...
Walaupun aku tidak tahu apa yang ada di depanku, tapi aku bisa merasakannya
Lillahi Ta'ala.
Apakah menurutmu aku bisa
main-main, sementara waktu yang dijanjikan Allah sudah semakin dekat?
Kalau hanya wanita, insya Allah aku
bisa mendapatkannya dalam hitungan ...1...2...3...(tidak percaya, wanna
bet...?)
Sejak aku sadar itulah, aku tidak menginginkan wanita biasa lagi, aku ingin
yang special dari Allah.
Dan untuk itu, aku harus sabar, dan
berusaha bertahan, kadang sampai harus menggigit tangan/jariku sampai
sakit/berdarah agar aku sadar bahwa siksaan Allah jauh lebih pedih, untuk tidak
"menyentuh"wanita lain.
Tapi emang distractors itu
selalu ada, untuk memalingkanku, mengalihkanku, dan/atau menghentikanku.
Beberapa orang yang tidak membawa nama Allah di hatinya, mengaku mencintai
Allah, bagaimana bila aku tidak bisa menahan diriku?
Bagaimana bila aku menyakiti orang
lain lagi...?
Laa Haula Walaa Quwwataa Illa
Billah.
"Wahai Tuhanku, penjara lebih
aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau
hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk
(memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang
bodoh"
(QS. Yusuf:33)
Aku lebih menyukai terkurung dalam
penjara dan siksaan duniawi ketimbang kenikmatan sesaat yang akan mendatangkan
siksaan pedih.
“Dunia adalah penjara bagi orang
mukmin dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)
Bukannya tidak bersyukur atas semua nikmat yang Allah limpahkan
kepadaku, daripada itu…
Aku lebih ingin segera berada di akhirat bersama Allah, tapi kenyataan bahwa
aku masih di dalam penjara ini membuatku sedih, berarti dosaku masih ada.
Masih ada batas-batas di dunia ini.
Sehebat apapun seorang mukmin di dunia, ia masih dalam “penjara “ , penjara yang membatasi
menahan hawa nafsu dan keterbatasan terhadap semua hal yang menipu dan membuat
lalai dari mengingat Allah. Selemah apapun orang kafir di dunia ini mereka masih
seolah berada di dalam surga, karena penderitaan yang mereka hadapi di dunia
jika di bandingkan dengan siksaan yang menanti mereka di akhirat, tidak ada
artinya sebab disana ada neraka Jahannam (hai… :D)yang menyala sudah menanti
mereka, Naudzubillah.
” Tiadalah perbandingan dunia ini
dengan akhirat kecuali seperti orang yang memasukkan jarinya kedalam lautan
luas, maka perhatikanlah yang tersisa.“
(H.R. Muslim dari AL-Mustaurid bin syaddad r.a.)
Banyak orang lupa, kalau “mau hidup berapa tahun emangnya di dunia?
100...atau 200 tahun? Mati juga kan?”
“Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Manusia…aku dan mungkin yang lainnya juga sudah memperingatkanmu,
menyempatkan waktu kami untukmu, jangan sampai “semua sudah terjadi, semua
sudah hanur, semua sudah terlambat”, baru engkau menyesalinya dan menyalahkan
kami “kenapa aku tidak dikasih tahu, padahal kamu sudah tahu?”
Aku insya Allah akan menolongmu saat itu, lalu aku membalik badanku darimu
begitu engkau berhenti menangis.
“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang
sekedar numpang lewat/musafir.”
(HR. Bukhari)
Aku tau, ketika aku melakukan itu, aku dianggap player.
Sungguh kejam
tuduhan itu. Astaghfirullah al-Adzim.
Apa yang kamu harapkan?
Aku duduk manis bersamamu menunggu azab dari Tuhanku, yang biasanya
justru akan membuatku sedih dan mungkin aku terkena juga? Naudzubillah.
Atau kamu berharap aku akan melindungimu dari azab Tuhanku?
Astaghfirullah al-Adzim, Demi Allah, aku tidak dapat melakukan itu.
Sudah berapa kali kamu melihat “kecelakaan” yang merenggut nyawa secara
tiba-tiba?
Apakah itu kebetulan??
Adakah engkau melihat manusia yang terkena penyakit parah yang tidak bisa
sembuh?
Apakah itu hanya “sial aja”?
Sudah berapa kali kamu melihat tubuh manusia kehilangan daya gerak,
membujur kaku tanpa daya tanpa hembusan nafas?
Kemanakah senyumnya, kemanakah tawanya, kemanakah tatapan matanya,
kemanakah kata-katanya, dimana dia, apakah ini dia yang kemarin masih tersenyum
melihatku, masih tertawa bersamaku?
Lalu,kamu bertanya “apa pandanganku terhadap dunia ini?”
Tentu saja, aku speechless, karena:
“Ada apa antara aku dengan dunia ini?
Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang
pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon.
Kemudian
dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya.”
(HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)
Hal yang sama juga berlaku untuk harta, Allah sudah mencukupiku dan Dia
selalu memanjakanku dengan memenuhi kebutuhanku, bahkan setiap kali aku merengek kepada-Nya minta sesuatu, Alhamdulillah.
Sehingga aku tidak perlu mengurusi dapur orang lain,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal
dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena
sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah
berikan kepada kalian.”
(HR. Muslim)
Aku menyadari hal-hal itu, fitnah dunia yang paling melalaikan, fitnah
harta dan fitnah wanita, dan aku berlindung kepada Allah, karena aku merasa
malu jika sampai dua hal itu membutakanku,
“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau.
Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk
diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya.
Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita.”
(HR. Muslim)
Tahukah kamu apa yang dikatakan wanita itu terhadap hamba Allah yang
tidak tunduk kepadanya?
"Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan
sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan
tetapi dia menolak.
Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan
kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan
orang-orang yang hina".
(QS. Yusuf: 32)
Jika Allah menyerahkan pengendalian urusan ini kepada diriku sendiri,
celakalah aku, karena sesungguhnya aku lemah, tiada daya dan upaya, tidak mempunyai kekuatan, tidak sanggup
mendatangkan bahaya dan kemanfaatan kecuali dengan bantuan dan kekuatan Allah.
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang
yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat
dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa:17)